Showing posts with label farmasi. Show all posts
Showing posts with label farmasi. Show all posts

Wednesday, 4 October 2017

Kasus BA / BE (2)

Resume BA / BE


Resume evaluasi bioekivalensi dari dua formulasi yang berbeda dari tablet ciprofloksasin pada sukarelawan sehat

            Studi bioekivalensi dari dua formulasi oral  500 mg tablet ciprofloksasin sebagai uji dan ciprobay sebagai acuan dilakukan pada 24 sukarelawan yang sehat.masing-masing sukarelawan diberi dosis tunggal ciprofloksasin.Pada artikel disebutkan bahwa ciprofloksasin adalah antibakteri yang relatif baru dan merupakan golongan fluoroquinolon yang aktif melawan bakteri aerobic gram positif dan gram negative.Mekanisme kerjanya dengan  menghibit DNA gyrase bakteri.Ciprofloksasin adalah alternatif yang baik untuk mengatasi infeksi saluran pernafasan bawah, ISK ,infeksi kulit,tulang,dan gastrointestinal.Ciprofloksasin memiliki oral absorbs dan nilai bioavailability yang baik, bioavailabilitinya 70% setelah administrasi obat, Cmaks = 0,8 dan 3,9 µ/ml, Vd = 2,1 – 5 L/hg dan t1/2 eliminasi 3-5 jam.
            Produk yang diuji adalah tablet siprofloksasin HCL 500 mg dari PT X sedangkan produk acuan yaitu tablet ciprobay® 500 mg dari bayer AG.Subyek uji yang digunakan 24 pria dewasa sehat dengan umur 22.8 (± 3,7) tahun, berat badan 63,8(± 9,5)kg , tinggi badan 169,9(±5,8) cm .Pengujian di lakukan secara acak dan double – blind two sequence crossover . Sukarelawan melakukan puasa dan tidak mengkonsusmsi alkohol 48 jam selama administrasi obat dan 24 jam selama pengambilan sampel serta tidak mengkosumsi cafein. Kemudian prosesnya adalah di buat 2 grup terdiri dari grup 1 ciprobay grup 2 ciprofloksasin .Setelah waktu washout grup 1 dan grup 2 diberi produk alternative. Sukarelawan Diambil darah vena 5 ml pada waktu ke 0 ,0,25 0,5 0,75 1,0 1,5 2 2,5 3 3,5 4,5 6,0 8,0 12,0 18,0 24,0 di beri Herparin. Kosentrasi ciprofloksasin di analisi dengan HPLC detector UV .Parameter yang di dapat yaitu AUCo ~∞ Cmax Tmax .
            Hasil yang di dapatkan adalah pada uji kedua produk berjalan dengan baik dan tidak adanya efek yang merugikan yang di alami sukarelawan. Kedua produk dapat di absorbsi dengan baik.Profil farmakokinetik ciprobay® dan ciprofloksacin sangat mirip. Konsentrasi puncak pada kedua formulasi dalam plasma terukur pada jam ke-1 dan menurun setelah 23 jam. Rata AUCo-∞ ciprofloksacin adalah 5,59 jam. µ/ml (SD 1,2 jam µ/ml) sedangkan ciprobay® 5,57 jam µ/ml (SD 1,70 jam µ/ml).Kemudian nilai Cmax dari ciprofloksasin adalah 1,39 µ/ml (SD 0,38 µ/ml) , ciprobay® 1,43 µ/ml (SD 0,46 µ/ml) . Analisi ANOVA AUCo-∞, Cmax menghasilkan P ≥ 0,05 dengan kesimpulan tidak ada perbedaan signifikan secara statistik .Nilai CV AUCo-∞,dan Cmax adalah 12,22% dan 18,04 % sehingga lebih kecil dari 20% .Dari 24 sukarelawan hasil bioavailabilitas ciprofloksacin di banding ciprobay®  100,36 % untuk AUC.Nilai Tmax ciprofloksasin dan ciprobay®  hampir sama yaitu 1,11 jam dan 1,08 jam. Uji statistic terhadap keduanya menunjukan P≥0,05 sementara nilai T ½ ciprobay®  dan ciprofloksacin berturut – turut adalah 3,45 jam dan 3,36 jam. Nilai rentang  normal T1/2  dalam literature yaitu 3-5 jam .Nilai konfiden, interval, AUCo-∞, ciprofloksasin dan ciprobay® adalah 0,95 dan 1,07 , sementara Cmax nya adalah 0,90 dan 1,07 . Kedua nilai tersebut terletak dalam rentang normal konvidence  interval yaitu 0,80 – 1,25.Jadi dua produk obat di katakana bioekivalen bila kecepatan dan jumlah zat aktif yang terabsorbsi sebanding.UJi bioekivalen di lakukan dengan mengukur nilai AUC dan Cmax yang dapat di terima 0,80 – 1,25.




CONTOH KASUS ALZHEIMER

Kasus :
Terdapat Seorang pasien bernama Tn. H,  69 tahun berdasarkan hasil anamnesa dokter dan pemeriksaan penunjang yang terkait di diagnose mengalami Alzheimer tahap 3 dengan gejala gangguan/ penurunan fungsi kognitif dan cemas. Terapi yang diberikan adalah donepezil 10 mg 1 x sehari dan ekstrak gingko biloba 1 x sehari. RPD : Hipertensi terkendali dengan lisinopril 10 mg 1x1.
a.       Bagaimana asuhan kefarmasian pada Tn. H
b.      Parameter apa yang perlu dimonitoring ?

Penyelesian Kasus Sebagai Berikut :
Finding :
·        Tn. H usia 69 tahun
·        Terdiagnosis: Alzheimer tahap 3
·        Gejala: gangguan/ penurunan fungsi kognitif dan cemas.
·        RPD : Hipertensi terkendali dengan lisinopril 10 mg 1x1.
·        Terapi : Donepezil 10 mg 1 x sehari dan ekstrak gingko biloba 1 x sehari.

Assasment :
No
PEMILIHAN OBAT
DRP’s
KETERANGAN
RESOLUTION
MONITORING
1.
Donepezil 10 mg 1 x sehari
Pemberian dosis kurang tepat
Pemberian dosis Donepezil kurang tepat untuk Tn.H yang menderita Alzheimer tahap 3
Tetap diberikan donepezil yang dapat meningkatkan efek kognitif,  dengan  dosis 5 mg sekali sehari menjelang tidur sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pasien, tidak ada efek hepatotoksik
Efek samping obat: mual dan muntah
Setelah 4-6 minggu, dosis dapat dinaikkan menjadi 10 mg

2.
Ekstrak gingko biloba 1 x sehari
Pemilihanterapi tambahan bukan yang terbaik untuk pasien









Penggunaan ekstrak gingko biloba sebagai terapi tambahan bukan merupakan terapi yang terbaik untuk Tn. H. Karena informasi terakhir dari uji klinik tentang penggunaan gingko biloba untuk mencegah AD menunjukkan bahwa gingko biloba tidak memberikan efek signifikan. Bisa dilihat pada http://www.emaxhealth.com/1002/91/26772/gingko-biloba-does-not-prevent-alzheimer-039-s-disease.html
Gingko biloba dapat digantikan dengan Vitamin E dengan dosis 15 mg perhari (setara dengan 22 iu). Vitamin E, harganya murah dan dianggap aman cukup efektif untuk mencegah kepikunan, seperti yang dilaporkan pada perttemuan ilmiah tahunan American Geriatrics Society (AGS) 2009.
Pemantauan progresi penyakit
3.
Lisinopril 10 mg 1x sehari

Pemilihan obat sudah tepat. Hipertensi pada Tn. H sudah terkendali dengan lisinopril 10 mg 1x sehari
Tidak ada interaksi dengan donepezil
Pemantauan tekanan darah.

Pemantauan :
·        Pemantauan perlu dilakukan secara periodic untuk memantau kemampuan fungsional pasien (kognisi dan memori), dan gejala psikiatrik yang muncul.
·        Dapat digunakan dengan beberapa alat ukur seperti Mini-Mental State Examination (MMSE) atau yang lain

Terapi Non Farmakologi
1.      Managing the family
2.      Managing the environment
3.      Managing the pasien
Tujuan terapi non farmakologis dimaksudkan untuk memperbaiki orientasi realitas pasien, memodifikasi prilaku, memberikan informasi dan pelatihan yang benar pada keluarga pasien.

SELAMAT APOTEKER

      Apoteker adalah "penjaga gawang" dalam pengelolaan obat, apoteker dibentuk untuk menjadi rekan anda dalam "berkenalan dan bersahabat" dengan obat. Menjadi seorang apoteker tidaklah segampang membalik telapak tangan, banyak suka cita, duka, tangisan, keletihan, dan sebagainya. tapi semua itu tidak lantas menyurutkan saya dan rekan-rekan yang berjuang dari mulai S-1 Farmasi hingga menjadi seorang Apoteker. tenang, menjadi profesi apoteker itu keren ! karena profesi kita, masyarakat dapat tenang ketika harus mengkonsumsi obat, tanya obat tanya apoteker !! 

      Banyak kegiatan pengabdian yang apoteker laksanakan untuk memahamkan masyarakat tentang obat, kampanye GEMA CERMAT oleh Kemenkes RI, kampanye penggunaan obat yang rasional dan legal, dan terus blusukan kegiatan untuk menanamkan paradigma benar menggunakan obat. Saya dan kami bangga menjadi seorang apoteker yang dapat dekat dengan anda, dapat bersahabat dengan anda, dapat mendegarkan anda dalam bidang pengobatan dan dapat menjadi solusi anda ketika membutuhkan bantuan mengenai pengobatan anda.

"Apoteker lahir untuk anda, tanyakan kami mengenai obat"

      Terakhir dalam kerendahan hati, saya ucapkan terimakasih banyak untuk para senior, dosen dan orang tua atas pendidikan kasih sayang dan bantuan yang diberikan kepada kami selama pendidikan kami, mohon maaf apabila selama pendidikan masih banyak kelakuan kami yang bertentangan atau dirasa kurang menghargai, itu semua hanya sikap keingintahuan kami akan kemajuan. terimakasih untuk semua teman sejawat yang telah berjuang bersama, mari kita bangun Indonesia sehat yang lebih baik, salam Apoteker, salam Tim kesehatan !!!

Tuesday, 21 March 2017

TABLET

                
        TABLET

siapa hayo yang ga tau tablet?

Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. (FI IV, Hal 4)
Kriteria Tablet
Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1.           Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan;
2.      Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil;
3.      Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik;
4.      Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan;
5.      Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan;
6.      Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan;
7.      Bebas dari kerusakan fisik;
8.      Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan;
9.      Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu;
10.    Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.

Keuntungan Sediaan Tablet
Sediaan tablet banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu :
1.      Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih;
2.   Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis;
3.   Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil sehingga memudahkan proses pembuatan, pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan;
4.   Bebas dari air, sehingga potensi adanya hidrolisis dapat dicegah/diperkecil.

Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, sediaan tablet mempunyai keuntungan,antara lain :
1.   Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat (merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak), memudahkan pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan;
2.   Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh (mengandung dosis zat aktif yang tepat/teliti) dan menawarkan kemampuan terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah;
3.    Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan volume yang kecil;
4.    Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih stabil;
5.    Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air;
6.    Zat aktif yang rasanya tidak enak akan berkurang rasanya dalam tablet;
7.   Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah; tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul;
8.   Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di tenggorokan, terutama bila bersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi;
9.    Pelepasan zat aktif dapat diatur (tablet lepas tunda, lepas lambat, lepas terkendali);
10.  Tablet dapat disalut untuk melindungi zat aktif, menutupi rasa dan bau yang tidak enak, dan untuk terapi lokal (salut enterik);
11.  Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana, cepat, sehingga biaya produksinya           lebih rendah;
12.   Pemakaian oleh penderita lebih mudah;
13.  Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik.

Permasalahan Dalam Pencetakan Tablet
Masalah-masalah yang dapat muncul selama proses pencetakan tablet secara umum, seperti :
·        Capping     : pemisahan sebagian atau keseluruhan bagian atas/bawah tablet dari badan tablet
·        Laminasi     : pemisahan tablet menjadi dua bagian atau lebih
·        Chipping    : keadaan dimana bagian bawah tablet terpotong
·        Cracking    : keadaan dimana tablet pecah, lebih sering di bagian atas-tengah
·        Picking       : perpidahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada                                               permukaan punch
·        Sticking       : keadaan dimana granul menempel pada dinding die (ada adhesi)
·        Mottling      : keadaan dimana distribusi zat warna pada permukaan tablet tidak                                                    merata

Jenis Sediaan Tablet
Berdasarkan prinsip pembuatan, tablet terdiri atas :
a.            Tablet Kempa
Dibuat dengan cara pengempaan dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk/granul menggunakan pons/cetakan baja.
b.           Tablet Cetak
Dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah pada lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada pembentukan kristal yang terbentuk selama pengeringan, tidak tergantung pada kekuatan yang diberikan.

Metode Pembuatan Tablet
Sediaan tablet ini dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu granulasi basah, granulasi kering, dan kempa langsung. Pemilihan metode pembuatan sediaan tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat aktif yang akan dibuat tablet, apakah zat tersebut tahan terhadap panas atau lembab, kestabilannya, besar kecilnya dosis, dan lain sebagainya.
Berikut merupakan penjelasan singkat dari ketiga macam metode tersebut :
a.       Granulasi Basah
Yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi.Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan panas.Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik. Prinsipdari metode granulasi basah adalah membasahi masa tablet dengan larutan pengikat teretentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa basah tersebut digranulasi.
                        Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk dengan suatu perekat sebagai pengganti pengompakan, tehnik ini membutuhkan larutan, suspensi atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan kering  ke dalam campuran serbuk dan cairan dimasukan terpisah. Cairan yang ditambahkan memiliki peranan yang cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di antara partikel dan kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah cairan yang ditambahkan meningkat, gaya tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling penting pada awal pembentukan granul, bila cairan sudah ditambahkan pencampuran dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang merata dan semua bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah diperoleh massa basah atau lembab maka  massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan dengan alat penggiling atau oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul sehingga luas permukaan meningkat dan proses pengeringan menjadi lebih cepat, setelah pengeringan granul diayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur yang dugunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat.
     Keuntungan metode granulasi basah :
·   Memperoleh aliran yang baik
·   Meningkatkan kompresibilitas
·   Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai
·   Mengontrol pelepasan
·   Mencegah pemisahan komponen campuran selama proses
·   Distribusi keseragaman kandungan
·   Meningkatkan kecepatan disolusi
Kekurangan metode granulasi basah:
·         Banyak tahap dalam proses produksi yang harus divalidasi
·         Biaya cukup tinggi
·         Zat aktif yang sensitif terhadap lembab dan panas tidak dapat dikerjakan dengan cara ini. Untuk zat termolabil dilakukan dengan pelarut non air

b.      Granulasi Kering
Disebut juga slugging, yaitu memproses partikel zat aktif dan eksipien dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat yang selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar dari serbuk semula (granul). Prinsip dari metode ini adalah membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut, ikatannya didapat  melalui gaya. Teknik ini yang cukup baik, digunakan untuk zat aktif yang memiliki dosis efektif yang terlalu tinggi untuk dikempa langsung atau zat aktif yang sensitif terhadap pemanasan dan kelembaban.
                        Pada proses ini komponen–komponen tablet dikompakan dengan mesin cetak tablet lalu ditekan ke dalam die dan dikompakan dengan punch sehingga diperoleh massa yang disebut slug, prosesnya disebut slugging, pada proses selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk untuk mendapatkan granul yang daya mengalirnya lebih baik dari campuran awal bila slug yang didapat belum memuaskan maka proses diatas dapat diulang. Dalam jumlah besar granulasi kering dapat juga dilakukan pada mesin khusus yang disebut roller compactor yang memiliki kemampuan memuat bahan sekitar 500 kg, roller compactor memakai dua penggiling yang putarannya saling berlawanan satu dengan yang lainnya, dan dengan bantuan tehnik hidrolik pada salah satu penggiling mesin ini mampu menghasilkan tekanan tertentu pada bahan serbuk yang mengalir dintara penggiling.
     Metode ini digunakan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut :
o   Kandungan zat aktif dalam tablet tinggi
o   Zat aktif susah mengalir
o   Zat aktif sensitif terhadap panas dan lembab
      Keuntungan cara granulasi kering adalah:
·         Peralatan lebih sedikit karena tidak menggunakan larutan pengikat, mesin pengaduk berat dan pengeringan yang memakan waktu
·         Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab
·         Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh pengikat
Kekurangan cara granulasi kering adalah:
·         Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug
·         Tidak dapat mendistribusikan zat warna seragam
·         Proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi silang




c.       Metode Kempa Langsung
                        Yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat aktif dan eksipien kering.tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu.
Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan cepat pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang kecil dosisnya, serta zat aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan lembab. Ada beberapa zat berbentuk kristal seperti NaCl, NaBr dan KCl yang mungkin langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat aktik tidak mudah untuk langsung dikempa, selain itu zat aktif tunggal yang langsung dikempa untuk dijadikan tablet kebanyakan sulit untuk pecah jika terkena air (cairan tubuh). secara umum sifat zat aktif yang cocok untuk metode kempa langsung adalah; alirannya baik, kompresibilitasnya baik, bentuknya kristal, dan mampu menciptakan adhesifitas dan kohesifitas dalam massa tablet. Sedangkan keuntungan metode kempa langsung yaitu :
·         Lebih ekonomis karena validasi proses lebih sedikit
·         Lebih singkat prosesnya. Karena proses yang dilakukan lebih sedikit, maka waktu yang diperlukan untuk menggunakan metode ini lebih singkat, tenaga dan mesin yang dipergunakan juga lebih sedikit.
·         Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak tahan lembab
·         Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati proses granul, tetapi langsung menjadi partikel. tablet kempa langsung berisi partikel halus, sehingga tidak melalui proses dari granul ke partikel halus terlebih dahulu.
Kerugian metode kempa langsung :
o   Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif dengan pengisi dapat menimbulkan stratifikasi di antara granul yang selanjutnya dapat menyebabkan kurang seragamnya kandungan zat aktif di dalam tablet.
o   Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa langsung karena itu biasanya digunakan 30% dari formula agar memudahkan proses pengempaan sehingga pengisi yang dibutuhkanpun makin banyak dan mahal. Dalam beberapa kondisi pengisi dapat berinteraksi dengan obat seperti senyawa amin dan laktosa spray dried dan menghasilkan warna kuning. Pada kempa langsung mungkin terjadi aliran statik yang terjadi selama pencampuran dan pemeriksaan rutin sehingga keseragaman zat aktif dalam granul terganggu.

o   Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan harus bersifat; mudah mengalir; kompresibilitas yang baik; kohesifitas dan adhesifitas yang baik

Friday, 17 March 2017

DETERMINATION OF CONTENT levofloxacin

DETERMINATION OF CONTENT levofloxacin OPTIMIZATION IN HUMAN BLOOD PLASMA (IN-VITRO) BY high performance liquid chromatography


Levofloxacin is an antibiotic flluroquinolon more potent than ciprofloxacin, as long as there has been no determination of levels in human blood plasma using SPE then dianalaisis with HPLC UV detector, Semantara of the structure that contains the chromophore allows for analysis by UV detekor.
The stationary phase used was octadecyl Silane (ODS) in column 250 x 4.6 mm (particle size 10 m), the mobile phase 0.025 molar phosphate buffer pH 2.5 and acetonitrile in the ratio (85:15)%, flow rate 1, 2 ml / min, 295 nm, and the standard internal ciprofloxacin. Validation methods performed, among others, selectivity, repeatability, linearity, LOD, LOQ, accuracy, precision and suitability of the system, with a spiking method.
From the chromatogram obtained test results and repeatability good selectivity with koefsien variation <2% (r = 6), obtained from the linearity range of 0.1 to 5 mg / ml using standard internal levels of ciprofloxacin with 3 ug / ml with r values> 0,999 (from 0.9994 to 0.9998), respectively LOD value of the ratio of the area of ​​0.065 ug / ml and by a high ratio of area of ​​0.06474 g / ml, the LOQ value of the ratio of total area of ​​0.2153 ug / ml and based on the high area ratio of 0.21580 g / ml, the percent recovery of intra-day and inter-day consecutive 94.4166 and 95.7041 ± ± 109.3797% 108.8287%, as well as precision (% CV) intra- -Day and inter-day consecutive 0.5153 ± 2.8999% and 0.9262 ± 2.4691% by UII results of conformity system against retention time, area and height ratio KV area <2%. conclusions of this research is the method used sfesifik and sensitive enough to establish the levels of levofloxacin in human blood plasma.
Keywords: HPLC, Levofloxacin, SPE, Blood Plasma

Wednesday, 15 March 2017

Review paper nyeri

Review paper
KASUS 
Manakah yang lebih efektif terapi untuk mengatasi nyeri neuropati antara amitriptilin. Pregabalin, atau gabapentin?
Paper 1:
An observational descriptive study of the epidemiology and treatment of neuropathic pain in a UK general population

Metode penelitian :
            Penelitian dengan menggunakan studi kohort. Populasi penelitian terdiri dari semua pasien yang secara permanen terdaftar di praktek GPRD setiap saat dalam masa studi, dari tanggal 1 Januari 2005 sampai 31 Desember 2010. Lima kohort nyeri neuropatik (pasca herpetik neuralgia, neuropati diabetes yang menyakitkan, nyeri tungkai hantu, neuropatik kembali nyeri neuropatik dan pasca sakit operasi) yang diidentifikasi dari populasi penelitian ini dengan mencari catatan pasien individu untuk baik tunggal tertentu kode Baca, atau kombinasi.
Hasil :
            Penelitian ini termasuk 5.920 pasien dengan pasca herpes neuralgia, 5340 dengan penyakit diabetes neuropati 185 dengan nyeri tungkai hantu dan 90.941 dengan nyeri punggung neuropatik. Hal ini memberikan tingkat kejadian tahunan per 10.000 penduduk dari 3,4 (95% Confidence in tervals (CI) 3.4, 3.5), pasca-herpes neuralgia, 3,1 (95% CI 3.0, 3.2) untuk neuropati diabetes yang menyakitkan dan 0,1 (95% CI 0,09, 0,12), untuk nyeri tungkai hantu. Ketika standar untuk 2010 Inggris usia dan jenis kelamin distribusi, kejadian tahunan per 10.000 penduduk adalah 3,0 (95% CI3.0, 3.1) untuk pasca-herpes neuralgia, 2,8 (95% CI 2.7, 2.8)untuk neuropati diabetes yang menyakitkan dan 0,11 (95% CI 0,09,0,12) untuk nyeri phantom limb. Insiden ketiga kondisi ini meningkat dengan usia .Nyeri tungkai lebih sering terjadi pada pria daripada wanita, sementara pasca-herpes neuralgia lebih sering terjadi pada wanita. Insiden pasca-herpes neuralgia dan neuropati diabetes yang menyakitkan meningkat selama periode penelitian .Jumlah rata-rata tahunan pasien dengan peristiwa cident di- dalam definisi kasus kami sakit punggung neuropatik adalah 18.188, meningkat selama periode penelitian 49-62 per 10.000 penduduk, per tahun (rata-rata 53). Meskipun pelebaran definisi kasus awal, hanya 49 pasien diidentifikasi memiliki nyeri neuropatik pasca operasi setelah baik payudara atau operasi hernia. Analisis pengobatan untuk kelompok ini karena itu tidak dilaporkan.
            Untuk pengobatan lini pertama adalah amitriptilin untuk neuralgia pasca herpes, data 2002-2005, amitriptilin pengobatan lini pertama ameskipun digunakan mengalami penurunan neuralgia dan  nyeri pasca-herpes (2002-2005: 2006-2010, 50%: 39% di neuropati pasca-herpes dan 41%: 21% sakit tungkai).sedangkan gabapentin digunakan untuk nyeri neurpati lini pertama (2002-2005 dibandingkan 2006-2010: 17% banding 38%).
Kesimpulan
Lebih efektif gabapentin atau pregabalin untuk mengobati nyeri neuropatik dibandingkan dengan dan amitriptilin.
Paper 2 :
Duloxetine, Pregabalin, and Duloxetine Plus Gabapentin for Diabetic Peripheral Neuropathic Pain Management in Patients With Inadequate Pain Response to Gabapentin: An Open-Label, Randomized, Noninferiority Comparison

Metode penelitian:
           penelitian open-label pasien dengan nyeri neuropatik perifer diabetes yang telah diobati dengan gabapentin (≥900 mg / d) dan memiliki respon yang tidak memadai (didefinisikan sebagai skor nyeri harian ≥4 pada skala penilaian numerik [0-10 poin]). Pasien pertama terdaftar pada tanggal 28 September 2006, dan kunjungan pasien terakhir terjadi pada bulan Agustus tahun 2009. Pasien diacak untuk monoterapi duloxetine (n = 138), pregabalin monoterapi (n = 134), atau kombinasi dari duloxetine dan gabapentin (n = 135). Tujuan utama adalah perbandingan inferioritas non antara duloxetine dan pregabalin pada peningkatan rata-rata mingguan buku harian berbasis skor nyeri harian (skala 0- 10-point) pada titik akhir. Non Rendah akan dinyatakan jika perbaikan rata-rata untuk duloxetine tidak lebih buruk daripada peningkatan rata-rata untuk pregabalin, dalam variabilitas statistik, dengan selisih -0.8 Unit, penelitian dilakukan dalam 12 minggu.

Hasil:
           Perubahan berarti dalam rating nyeri pada titik akhir adalah-2,6 Untuk duloxetine dan -2,1 untuk pregabalin. Batas kepercayaan 97,5% lebih rendah adalah -0,05 perbedaan berarti, membangun noninferiority. Adapun efek samping, mual, insomnia, hiperhidrosis, dan nafsu makan menurun lebih sering dengan duloxetine dibandingkan pregabalin; insomnia, lebih sering dengan duloxetine dibandingkan duloxetine ditambah gabapentin; edema perifer, lebih sering dengan pregabalin dibandingkan dengan duloxetine; dan mual, hiperhidrosis, nafsu makan berkurang, dan muntah, lebih sering dengan duloxetine ditambah gabapentin dibandingkan dengan pregabalin.

Kesimpulan:

Gabapentin dan pregabalin lebih efektif dalam mengatasi nyeri neuropati. Duloxetine adalah noninferior untuk pregabalin untuk pengobatan nyeri pada pasien dengan neuropati perifer diabetes yang memiliki respon nyeri memadai untuk gabapentin.

Tuesday, 14 March 2017

BAKTERI E-coli (1)


Ø  Nama bakteri                        :  Escherichia coli

Ø  Bentuk dan susunan bakteri :  BENTUK = Batang  yang pendek dengan panjang berkisar o,5-1,0             mikrometer dan memiliki lebar 1,3 – 3 mikrometer. Setiap selnya memiliki flagella yang berfungsi sebagai alat gerak dan tersebar merata di seluruh permukaan sel tersebut ; WARNA = Merah ;SUSUNAN = Beberapa bakteri ini sering terlihat hidup secara terpisah, namun ada juga yang berdampingan berkelompok dua – dua. Seringkali juga terlihat seperti menjalin membentuk rantai yang bergerombol.

Ø  Struktur bakteri: Struktur sel E.coli dikelilingi oleh membran sel, terdiri dari sitoplasma yang mengandung nukleoprotein. Membran sel E. coli ditutupi oleh dinding sel berlapis kapsul. Flagela dan pili  E. coli menjulur dari permukaan sel (Tizard 2004). Tiga struktur antigen utama permukaan yang digunakan untuk membedakan serotipe golongan E.coli adalah dinding sel, kapsul dan flagela. Dinding sel E.coli berupa lipopolisakarida yang bersifat 4 pirogen dan menghasilkan endotoksin serta diklasifikasikan sebagai antigen O. Kapsul E.coli berupa polisakarida yang dapat melindungi membran  luar dari fagositik dan sistem komplemen,diklasifikasikan sebagai   antigen K. Flagela E.coli terdiri dari protein yang bersifat antigenik dan dikenal sebagai antigen H. Faktor virulensi E. coli juga disebabkan oleh enterotoksin, hemolisinkolisin, siderophor , dan molekul pengikat besi (aerobaktin dan entrobaktin). Dan tidak memiliki spora

Ø  Golongan bakteri                  : Termasuk bakteri gram negative, karena memiliki sistem membran ganda di mana membran plasmanya diselimuti oleh membran luar permeable. Bakteri ini mempunyai dinding sel tebal berupa  peptidoglikan, yang terletak di antara membran dalam dan membran luarnya.

Sifat pertumbuhannya         : E. coli termasuk bakteri mesofilik dengan suhu pertumbuhannya             dari 7 ºC sampai 50 ºC dan suhu optimum sekitar 37 ºC (Adams dan Moss, 2008). E. coli dapat tumbuh pada pH 4-9 dengan aktivitas air 0.935. Laju pertumbuhan E. coli yaitu 25 jam/generasi pada suhu 8 ºC (Forsythe 2000). E. coli keluar dari tubuh bersama tinja dalam jumlah besar sertamampubertahansampai beberapa minggu.Kelangsungan hidup dan replikasi E. coli di lingkungan membentuk koliform. E. coli tidak tahan terhadap keadaan kering atau desinfektan biasa. Bakteri ini akan mati pada suhu 60ºC selama 30menit. Bakteri ini bisa menggandakan tubuhnya atau yang disebut pula dengan generasi dalam waktu 15 hingga 20 menit saja. dalam waktu tersebut bakteri ini mampu menggandakan tubuhnya menjadi dua kali lipat. Dalam bagan geometrik eksponensiall, tercatat dalam waktu 10 jam saja satu sel bakteri ini bisa menggandakan tubuhnya dan berkembang menjadi lebih dari 1 triliun sel.

Escherichia coli dapat tumbuh di medium nutrien sederhana, dan dapat memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam dan gas (Pelczar dan Chan, 2005:169). Kecepatan berkembangbiak bakteri ini adalah pada interval 20 menit jika faktor media, derajat keasaman dan suhu tetap sesuai. Selain tersebar di banyak tempat dan kondisi, bakteri ini tahan terhadap suhu, bahkan pada suhu ekstrim sekalipun. Suhu yang baik untuk pertumbuhan bakteri ini adalah antara 80C-460C, tetapi suhu optimumnya adalah 370C. Oleh karena itu, bakteri tersebut dapat hidup pada tubuh manusia dan vertebrata lainnya (Dwidjoseputro, 1978:82).
Taksonomi Escherichia coli sebagai berikut (Dwidjoseputro, 1978:105):
Divisi        :Protophyta
Kelas        :Schizomycetes
Ordo         :Eubacteriales
Famili        :Enterobacteriaceae
Genus       :Escherichia
Spesies     :Escherichiacoli
Pelczar dan Chan (1988:809-810) mengatakan Escherichia coli merupakan bagian dari mikrobiota normal saluran pencernaan. Escherichia coli dipindahsebarkan dengan kegiatan tangan ke mulut atau dengan pemindahan pasif lewat makanan atau minuman.
Morfologi dan ciri-ciri pembeda Escherichia coli yaitu:
(1) merupakan batang gram negatif.
(2) terdapat tunggal, berpasangan, dan dalam rantai pendek.
(3) biasanya tidak berkapsul.
(4) tidak berspora.
(5) motil atau tidak motil, peritrikus.
(6) aerobik, anaerobik fakultatif.
(7) penghuni normal usus, seringkali menyebabkan infeksi.
Escherichia coli dalam usus besar bersifat patogen apabila melebihi dari jumlah normalnya. Galur-galur tertentu mampu menyebabkan peradangan selaput perut dan usus (gastroenteritis) (Pelczar dan Chan, 1988:809-810). Bakteri ini menjadi patogen yang berbahaya bila hidup di luar usus seperti pada saluran kemih, yang dapat mengakibatkan peradangan selaput lendir (sistitis) (Pelczar dan Chan, 1988:545).
Escherichia coli dapat dipindahsebarkan melalui air yang tercemar tinja atau air seni orang yang menderita infeksi pencernaan, sehingga dapat menular pada orang lain. Infeksi yang timbul pada pencernaan akibat dari serangan bakteri Escherichia coli pada dinding usus menimbulkan gerakan larutan dalam jumlah besar dan merusak kesetimbangan elektrolit dalam membran mucus. Hal ini dapat menyebabkan penyerapan air pada dinding usus berkurang dan terjadi diare .(Pelczar dan Chan, 1988:810).
                                                     
Ø  Sifat biokimiawinya             : Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri anaerob fakulatif yang mampu hidup pada kondisi aerob maupun anaerob, tidak memiliki  enzim sitrat permiase, pada fermentasi tidak menghasilkan metilen  glikon dan asetolin. Dan bakteri ini mapu mengfermentasikan   karbohidrat dari golongan Glukosa, Laktosa, maltose, dan Manitol. Uji – uji biokimia yang dilakukan terhadap E.coli term asukkarakteristik pertumbuhan pada agar TSI (Triple Sugar Iron) dan agar SIM (Sulfite Indole Motility) atau LIM (Lysine Indole Motility).   Uji-uji biokimia ditunjukkan untuk menunjukkan E.coli dan bakteri-bakteri lainnya yang mempunyai sifat-sifat hamper sama, yaitu Klebsiella dan Enterobacter
Ø  Patogenitas dari penyakit yang ditimbulkan : Untuk  Escherichia coli, penyakit yang sering           ditimbulkan adalah diare. E.coli sendiri diklasifikasikan berdasarkan sifat virulensinya dan setiap grup klasifikasinya memiliki mekanisme penularan yang berbeda-beda, yaitu:
v  E. Coli Enteropatogenik (EPEC)
            E. coli ini menyerang manusia khususnya pada bayi. EPEC melekatkan diri pada sel mukosa kecil. Faktor yang diperantarai oleh kromosom akan menimbulkan pelekatan yang kuat.  Pada usus halus, bakteri ini akan membentuk koloni dan menyerang pili sehingga penyerapannya terganggu. Akibatnya adalah adanya diare  cair yang biasanya sembuh sendiri tetapi dapat juga menjadi kronik. EPEC sedikit fimbria, ST dan LT toksin, tetapi EPEC menggunakan adhesin yang dikenal sebagai intimin untuk mengikat inang sel usus. Sel EPEC invasive (jika memasuki sel inang) dan menyebabkan radang.
v  E. Coli Enterotoksigenik (ETEC)
Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk menimbulkan pelekatan ETEC pada sel epitel usus kecil. Lumen usus terengang oleh cairan dan mengakibatkan hipermortilitas serta diare, dan berlangsung selama beberapa hari. Beberapa strain ETEC menghasilkan eksotosin tidak tahan panas. Prokfilaksis antimikroba dapat efektif tetapi bisa menimbulkan peningkatan resistensi antibiotic pada bakteri, mungkin sebaiknya tidak dianjurkan secara umum. Ketika timbul diare, pemberian antibiotic dapat secara efektif mempersingkat lamanya penyakit. Diare tanpa disertai demam ini terjadi pada manusia, babi, domba, kambing, kuda, anjing, dan sapi. ETEC menggunakan fimbrial adhesi (penonjolan dari dinding sel bakteri) untuk mengikat sel – sel enterocit di usus halus. ETEC dapat memproduksi 2 proteinous enterotoksin: dua protein yang lebih besar, LT enterotoksin sama pada struktur dan fungsi toksin kolera hanya lebih kecil, ST enterotoksin menyebabkan akumulasi cGMP pada sel target dan elektrolit dan cairan sekresi berikutnya ke lumen usus. ETEC strains tidak invasive dan tidak tinggal pada lumen usus.
v  E. Coli Enterohemoragik (EHEC)
Menghasilkan verotoksin, dinamai sesuai efek sitotoksinya pada sel Vero, suatu sel hijau dari monyet hijau Afrika. Terdapat sedikitnya dua bentuk antigenic dari toksin. EHEC berhubungan dengan holitis hemoragik, bentuk diare yang berat dan dengan sindroma uremia hemolitik, suatu penyakit akibat gagal ginja akut, anemia hemolitik mikroangiopatik, dan trombositopenia. Banyak kasus EHEC dapat dicegah dengan memasak daging sampai matang. Diare ini ditemukan pada manusia, sapi, dan kambing.
v  E. Coli Enteroinvansif (EIEC)
Menyebabkan penyakit yang sangat mirip dengan shigellosis. Memproduksi toksin Shiga, sehingga disebut juga Shiga-toxin producing strain(STEC). Toksin merusak sel endotel pembuluh darah, terjadi pendarahan yang kemudian masuk ke dalam usus. EIEC menimbulkan penyakit melaluii invasinya ke sel epitel mukosa usus.
v  E. Coli Enteroagregatif (EAEC)
Menyebabkan diare akut dan kronik pada masyarakat di Negara berkembang. Bakeri ini ditandai dengan pola khas pelekatannya pada sel manusia. EAEC menproduksi hemolisin dan ST enterotoksin yang sama dengan ETEC.
Penularan
Penularan pada bakteri ini adalah dengan kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung, seperti :
-  makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor
-  Tidak mencuci tangan dengna bersih setelah selesai buang air besar atau membersihkan tinja yang terinfeksi, sehingga kontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang.


Daftar Pustaka:
Adams MR, Moss MO. 2008. Food Microbiology 3rd Edition. Cambridge: RSC Pub.
Forsythe SJ. 2000. The Microbiology of Safe Food . London: Blackwell Science.
Elsevier Saunders.Tizard IR. 2004.Veterinary Immunology: an Introduction Sixth Edition. Pennsylvania: WB Saunders.
Rahmatullah, Ahmad Marzuki.   E.coli : STUDI KARAKTERISASI BAKTERI Eschericia coli DILABORATORIUM KESEHATAN,LUMAJANG. http://www.academia.edu/4139114/e.coli . diakses tanggal 17 Juli 2013
Anonymous. Mengenal Bakteri Escherichia Coli. http://www.anneahira.com/bakteri-escherichia-coli.htm. diakses tanggal 27 Maret 2013
Anonymous. Uji Biokimia. http://publichealthworld2011.blogspot.com/2013/09/uji-biokimia.html. diposkan oleh Public Health World pada tanggal 8 September 2013
Aguskrisno. Patogenitas Mikroorganisme. http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2012/01/07/patogenisitas-mikroorganisme-2/. Diakses pada tanggal 7 Januari 2012





PENGELOLAAN ALAT KESEHATAN DI RUMAH SAKIT

PENGELOLAAN ALAT KESEHATAN DI RUMAH SAKIT            Berbagai peralatan yang diperlukan di Rumah Sakit seperti alat untuk menginfus da...